Sistem dan cara mengelola Administrasi Negara diharapkan dapat berubah secara kultur, pemikiran dan aplikasinya (ke arah yang lebih baik tentunya) setelah bulan suci Ramadhan ini kita lewati. Seperti kita ketahui semua Agama yang dalam prakteknya mewajibkan puasa, semuanya pada intinya memiliki misi yang sama dalam berpuasa yang secara global kira-kira adalah penguatan kontrol-diri, penguatan menahan hawa nafsu dan mempertajam rasa empati terhadap orang lain yang kurang beruntung.
Mengelola Negara Setelah Ramadhan? ———— (Notes on Ramadhan) Cyril Raoul Hakim
September 4th, 2009 · Tak Berkategori
→ 1 CommentTags:
Memberi Maaf di Bulan Ramadhan————-(Notes on Ramadhan) Cyril Raoul Hakim
September 3rd, 2009 · Tak Berkategori
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Musa AS, putra Imron bertanya kepada Allah SWT, ‘Ya Allah! Siapakah diantara hamba-Mu yang paling terhormat?’ Allah pun menjawab, ‘dia adalah hamba-Ku yang memberi maaf walaupun dia berada pada posisi yang Benar’ ” (Baihaqi)
Saudaraku pasti pernah mengalaminya, ketika bertengkar dengan sanak saudara, kawan, atasan, karyawan, kolega di kantor, teman se-kelas, guru atau siapapun. Dan saudaraku yakin (dan memang) berada di pihak yang benar atau ter-zalimi. Kemudian saudaraku memilih untuk tetap marah dan menyimpan dendam. Hmm, memang anda punya hak untuk itu, tidak ada orang yang pantas dizalimi seperti mereka telah men-zalimi saudaraku, toh mereka yg memulai semua permusuhan ini.
Memang, bila merujuk pada hadits di atas, saudaraku berada di pihak yang benar. Tetapi memberi maaf, selain sangat baik untuk kesehatan jasmani (menghindari diri dari stress yang dapat memicu segala macam penyakit) dan kesehatan rohani (menjaga diri dari segala hal yang ber-energi negatif), memberi maaf adalah juga langkah besar dalam perjalanan kita demi mendekati rahmat Allah SWT.
Bagaimana kita dapat menanjak tangga spiritual, ketika kita menyimpan amarah dan dendam terhadap orang lain? Walaupun kita berada di pihak yang benar/posisi yang terzalimi, apakah ini tidak menyia-nyiakan energi? Apakah memendam amarah terasa lebih baik daripada hati yang penuh dengan perasaan perasaan yang positif?
Tidakkah terasa janggal; memohon ampunan kepada Allah SWT, sementara kita masih belum memaafkan orang lain yang bersalah kepada kita? Kita tidak bisa mengharapkan ampunan-Nya, sebelum kita sendiri memaafkan orang yang pernah bersalah kepada kita.
Saling memaafkan, sekalipun memaafkan musuh yang paling keji adalah salah satu ajaran utama dalam agama Islam. Allah SWT berfirman: “Maka apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; (ketahuilah) dan yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Dan bagi orang orang yang menjauhi dosa dosa besar dan perbuatan perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf“. (QS Asy Syuura 42:36-37)
Salah satu yang khas dan istimewa di bulan Ramadhan adalah ampunan dan maaf. Nabi Muhammad SAW menjelaskan dalam salah satu hadits nya ; Ramadhan adalah bulan yang dimulai dengan belas kasih, di tengahnya ada ampunan dan pada akhirnya ada kebebasan dari terkena api neraka.
Bulan ini adalah saat yang teramat tepat untuk memohon ampunan atas dosa dosa kita kepada Allah SWT. Dan tidak ada lagi saat yang lebih tepat juga untuk membuka hati kita, melapangkan pintu maaf bagi orang orang yang pernah berbuat kesalahan terhadap kita.
Marilah kita mengisi sisa sisa hari di bulan Ramadhan ini selain dengan berpuasa juga dengan memberi maaf sebanyak banyaknya pada semua orang yang telah bersalah kepada kita sekaligus juga kita memohon ampunan dari Allah SWT.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya bagi kita semua, Amiin.
“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong” Mahatma Gandhi
→ No CommentsTags:
Sustaining the ‘fire’ of Reform Within — Reshaping the Culture of Our Organization (Cyril Raoul Hakim)
September 3rd, 2009 · Tak Berkategori
The organization we belong to was once a primadona on the political stage of this nation, how could it not? It was formed by a collection of ’supreme’ activists or you can call it the ‘dream team’ of activists, from Political, NGO and Spiritual fields. Names like Amien Rais, Goenawan Mohammad, Faisal Basri, Sindhunata, Zoemrotin, Albert Hasibuan, A.M. Fatwa and many more were among those who created this Party and its platform. Its revolutionary platform has given a new color in Indonesian politics, ideas such as a united federation form of Indonesia (wacana negara federasi), the separation of the Police Force from the National Armed Forces (pemisahan Polri dari TNI), placing education as the number one national budget’s priority etc. Ideas, programs and doctrines that were all over our Party’s platform have really become the heart and soul of the reform movement in 1998 and the reform era up until today. It is puzzling the mind though that our beloved organization has not gotten the recognition it should from the majority of the people. This problem arises mainly because of the emptyness of the old soul of our organizations, little by little, reformists are replaced by oppurtunists, newcomers that are not joining the Party because of its platform and spirit but mostly for pure personal gain through distinguished position in the Parliament or Executive bodies and those whom by joining the Party have and use the access for cash. Few months back I’ve been reading a book written by none other than the ‘Adolf Hitler’. Although we must all agree that Hitler was a psychotic racist (among others), MEIN KAMPF was also a magnificent piece of literature (putting aside the anti-Jew and its elimination course). The chapter that deals with ‘organization’ and really captured my attention while at the same time I was thinking about the future of our Party was Chapter 5 Weltanschauung and Organization. Here are some paragraphs from the chapter and I truly believe that these words written by the ‘beast’ can help us bring back the fire of our doctrines and spirit for the betterment of our beloved Party. —————————————————————————————————————————————————————————————
MEIN KAMPF (Adolf Hitler) Volume II, chapter 5 paragraph 10-15
In the beginning, political parties have also and nearly always the intention of securing an exclusive and despotic domination for themselves. They always show a slight tendency to become philosophical. But the limited nature of their programme is in itself enough to rob them of that heroic spirit which a philosophy demands. The spirit of conciliation which animates their will attracts those petty and chicken-hearted people who are not fit to be protagonists in any crusade. That is the reason why they mostly become struck in their miserable pettiness very early on the march. They give up fighting for their ideology and, by way of what they call ‘positive collaboration,’ they try as quickly as possible to wedge themselves into some tiny place at the trough of the existent regime and to stick there as long as possible. Their whole effort ends at that. And if they should get shouldered away from the common manger by a competition of more brutal manners then their only idea is to force themselves in again, by force or chicanery, among the herd of all the others who have similar appetites, in order to get back into the front row, and finally – even at the expense of their most sacred convictions – participate anew in that beloved spot where they find their fodder. They are the jackals of politics. But a general philosophy of life will never share its place with something else. Therefore it can never agree to collaborate in any order of things that it condemns. On the contrary it feels obliged to employ every means in fighting against the old order and the whole world of ideas belonging to that order and prepare the way for its destruction. These purely destructive tactics, the danger of which is so readily perceived by the enemy that he forms a united front against them for his common defence, and also the constructive tactics, which must be aggressive in order to carry the new world of ideas to success – both these phases of the struggle call for a body of resolute fighters. Any new philosophy of life will bring its ideas to victory only if the most courageous and active elements of its epoch and its people are enrolled under its standards and grouped firmly together in a powerful fighting organization. To achieve this purpose it is absolutely necessary to select from the general system of doctrine a certain number of ideas which will appeal to such individuals and which, once they are expressed in a precise and clear-cut form, will serve as articles of faith for a new association of men. While the programme of the ordinary political party is nothing but the recipe for cooking up favourable results out of the next general elections, the programme of a philosophy represents a declaration of war against an existing order of things, against present conditions, in short, against the established view of life in general. It is not necessary, however, that every individual fighter for such a new doctrine need have a full grasp of the ultimate ideas and plans of those who are the leaders of the movement. It is only necessary that each should have a clear notion of the fundamental ideas and that he should thoroughly assimilate a few of the most fundamental principles, so that he will be convinced of the necessity of carrying the movement and its doctrines to success. The individual soldier is not initiated in the knowledge of high strategical plans. But he is trained to submit to a rigid discipline, to be passionately convinced of the justice and inner worth of his cause and that he must devote himself to it without reserve. So, too, the individual follower of a movement must be made acquainted with its far-reaching purpose, how it is inspired by a powerful will and has a great future before it. Supposing that each soldier in an army were a general, and had the training and capacity for generalship, that army would not be an efficient fighting instrument. Similarly a political movement would not be very efficient in fighting for a philosophy if it were made up exclusively of intellectuals. No, we need the simple soldier also. Without him no discipline can be established. By its very nature, an organization can exist only if leaders of high intellectual ability are served by a large mass of men who are emotionally devoted to the cause. To maintain discipline in a company of two hundred men who are equally intelligent and capable would turn out more difficult in the long run than in a company of one hundred and ninety less gifted men and ten who have had a higher education. —————————————————————————————————————————– <big>Note the last paragraph… should NOT be the other way around about the “leaders of high intellectual ability.” Wassalam, CRH
→ No CommentsTags:
Menerima Kenyataan ———————————————— July 2009 C.R. Hakim
September 3rd, 2009 · Tak Berkategori
“My friends, we have — we have come to the end of a long journey. The American people have spoken, and they have spoken clearly.” Itulah kata-kata yang disampaikan oleh John McCain di awal pidato konsesinya ketika penghitungan suara pada pemilu presiden Amerika Serikat belum berakhir namun kekalahan dirinya sudah dapat dipastikan. Sikap ksatria dari seorang kandidat yang luar biasa, seorang politisi senior yang telah melayani publik Amerika sebagai congressman dan senator selama 22 tahun, seorang pahlawan perang (yang ‘dibuktikan’ dengan ‘luka’ dan ‘cacat’ akibat pertempuran dan penyiksaan pada masa ia menjadi tawanan perang Vietnam selama 6 tahun). Rakyat telah ‘bersuara’ dan mereka telah ‘bersuara dengan sangat jelas’. Detik ketika John McCain menyampaikan ini, penghitungan menunjukkan Obama unggul dengan 333 electoral votes sedangkan McCain mengantongi 146 electoral votes. Statement tersebut apabila difahami adalah sebuah ‘penghargaan’ lebih untuk rakyat pemilih Obama ketimbang ‘penghargaan’ untuk Obama sendiri “A little while ago, I had the honor of calling Sen. Barack Obama to congratulate him. To congratulate him on being elected the next president of the country that we both love.” Selanjutnya McCain mengatakan bahwa dia telah menghubungi Obama via telepon untuk megucapkan selamat. Mengucapkan selamat pada pesaingnya yang memiliki satu kesamaan dengan dirinya: “sama-sama mencintai negerinya” Apabila kita lihat dari pernyataan-pernyataan McCain, sesungguhnya pada akhirnya membuat kita bersimpati atas kebesaran hatinya. Seorang yang bisa dibilang jauh lebih senior dari Obama, seorang yang jauh telah lebih banyak berbuat bagi bangsanya daripada seorang Obama. Namun, ‘tunduk’ pada sistem Demokrasi yang telah disepakati bersama di negerinya. Bahwa pada akhirnya ketika rakyat telah ‘berbicara’, itulah saatnya kandidat yang kalah harus menerimanya dengan lapang dada, karena sungguh bukan untuk mengaku kalah, namun untuk menerima kenyataan yang terjadi melalui proses yang telah disepakati bersama. Pidato Konsesi bukanlah untuk memberikan penghargaan pada kandidat seterunya namun lebih untuk mayoritas rakyat yang telah memberikan suaranya dalam pemilihan di negerinya. Suatu hari, lebih baik tidak lama lagi, cukuplah satu kali pemilu lagi… ketika rakyat telah ‘berbicara’, para kandidat dengan ikhlas menerima kenyataan.
→ No CommentsTags:
Us or Them (unfinished)
December 13th, 2008 · Tak Berkategori
The more We seek knowledge
The more We have the edge
’cause They just keep justifying
What is far from satisfying
They just go on and on
On how their way is right on
We should not be fooled twice
Otherwise there will be no more rice
Religion will be used against Us
But, God knows They’re the ones that left Him in the dust
While we are on His side for sure
’cause we stood by the old, the hungry and the poor
As this crisis is growing
They will go on and keep on lying
That: ’survival of the fittest’
Still will get Us out of this hopelessness
Never again we are going down that road
All over, people are carrying too much load
Seeking blessing
’cause it seems so near to the ending
“Cyril Raoul Hakim”
→ 2 CommentsTags:
666
December 13th, 2008 · Tak Berkategori
Yesterday, victims of greed went to a foreign gate
Looking for sanctuary in a country we once hate
When you are stripped off your dignity
There’s no more importance in identity
You were born with silver spoon in your mouth
Or was it Gold with sprinkle of diamonds?
And now your wealth has multiplied to a size of a Mammoth
Still you refuse to repent or really that head has grown horns?
When their lives are already a past
You were courting king and queens at your relatives’ wedding blast
Now that you have lowered them down to ticks
You still wonder why they wrote on your forehead, SIX SIX SIX
→ No CommentsTags:
eN Ka eR I(i)
November 19th, 2008 · Poem - Puisi
Jaga keutuhan NKRI!
Dikumandangkan, digembar-gemborkan tiada henti
Seakan Kita semua mengerti
Awam, rohaniawan hingga seniman
Budayawan sembarangan, Politisi Dadakan
Semua ngga mau ketinggalan
Jangan jangan sebenernya pada ngga ngerti
Kalau ancaman terhadap NKRI
Bukan cuma datang Dari Negeri Sendiri
Anak anak jalanan
Kemiskinan yang berkeliaran
Karena Lumpur Lapindo yang bersemburan
Freeport yang mengebor bumi
Sampai anjloknya saham BUMI
Itulah masalah Negeri
50 juta orang tahun depan jadi pengangguran
Akibat segelintir Kapitalis urakan
Yang bikin pasar modal jadi Berantakan
Kosongnya periuk nasi
Yang bikin gampang dirasuki
Dari PKI sampai FPI
Sementara Asing terus memiskinkan
Karena kemiskinan pangkal perpecahan
Ketika NKRI tak ada lagi, kembali kita jadi Jajahan
→ 4 CommentsTags:
Selebritisasi Politik, Pudarnya Politik Ideologi
November 14th, 2008 · Politics
1. Terjadinya fenomena masuknya selebriti di politik adl. bagian dari fenomena Demokrasi itu sendiri (baru 10 tahun kita menjadi negara demokratis) dimana pemilihan secara langsung dan bebas menuntut partai politik untuk memunculkan calon-calon anggota legislatif/kepala daerah/presiden yg tingkat pengenalannya lebih tinggi di kalangan pemilih. Ini pun terjadi di semua negara demokratis seperti Amerika Serikat (Ronald Reagan, congressman Bill Bradley-mantan pemain NBA dll), Filipina (mantan presidennya), Italia (Ilona-bintang film porno) di mana artis maupun atlit (selebriti) masuk dalam ajang politik dan masih.
2. Mengenai Ideologi, sebenarnya memang telah pudar dan sengaja dipudarkansejak orde baru 43 tahun lalu. Rezim Soeharto secara sistematismelalui; sekolah, media dll. menutup keran pembelajaran tentang ideologi di luar Pancasila dan Ideologi Pancasila yang diajarkan pun adl. Pancasilasesuai ‘terjemahan’ rezim tersebut. Dengan sendirinya mayoritas anak Bangsa pundangkal pengetahuannya tentang ideologi.
3. Sebenarnya Partai partai politik yang diurus oleh segelintir orang (bila dibandingkan jumlah silent-non active politically Indonesians) memilikiideologi masing masing. Mayoritas berieologi Pancasila (dengan intrepretasi yang berbedabeda) ada pula yang berideologi Agama (PKS, PPP, PKB). Ideologi yang dianut paratai2 ini diimplementasikan dalam bentukproblem solving (walaupun lebih sering problem creating
)dan pembuatan Undang Undang.
4. Dalam masa kampanye/menjelang Pemilu, karena masih rendahnya tingkat pendidikan mayoritas pemilih, Parpol2 (hampir semua) yg tujuan jangka pendeknya adl. memenangkan Pemilu akhirnya menyimpulkan bhw mereka memerlukan calon calon yang mudah ‘dijual’ (baca: artis) kepada pemilih. Sehingga sosialisasi dan doktrin2 ideologi pun diabaikan.
5. Sistem Demokrasi tentunya akan lebih efektif apabila tingkat pendidikan masyarakat sudah sangat memadai. Kita baru 10 tahun berdemokrasi, tahun-tahun mendatang tentunya akan berbeda dengan sekarang. Mungkin akan tetap ada selebriti di politiknamun sesuai dengan seleksi alam, yang tinggal hanyalah yang benar2 mumpuni dan dapat menerjemahkan ideologinya dalam bentuk problem solving.
6. Ideologi ini pudar sementara sampai masyarakat umum mencapai tingkat pendidikan yang lebih memadai, sampai mereka menyadari bahwa butuh ideologi untuk menformulasikan solusi solusi dan partai partai politik akhirnya harus mulai ‘menjual’dirinya dengan cara yang berbeda dari sekarang.
Kesimpulannya, saya percaya dan yakin bahwa ideologi Pancasila dan UUD 1945 (dengan Amandemennya) masih yang terbaik bagi bangsa ini dan harus selalu dkiperjuangkan dan diajarkan pada anak anak Bangsa, tetapi Pancasila dan konstitusi yang diterjemahkan sesuai dengan maksud formulator2nya (the Founding Fathers)>> Soekarno, Yamin, Hatta dll. yaitu Pancasila dan konstitusi yang ’soul’nya adalah sosio-demokrasi dan ada ’spirit’ nasionalisme yang tinggi bukan seperti ideologi dan terjemahan konstitusi yg berkembang sekarang (thank’s to parpol2) yang condong ke arah ekonomi liberal dan kaptalisme membabi-buta (terbukti dgn pencabutan subsidi2 bagi rakyat dan penjualan asset asset negara kpd pihak asing). Masyarakat Indonesia harus bangkit dan bergerak untuk menegakkan kembali Ideologi yang telah lama pudar ini, Partai partai politik harus menjadi media pencerahan dan mulai memberikan pencerahan dan pembelajaran bagi para pemilihnya… dan para Artis yang berpolitik (termasuk istri saya tercinta, Wanda>> walaupun dia lebih suka disebut… AKTIVIS! ;-)) please learn and learn and learn, cause you are not here to amuse but to save this beloved country of ours!
wassalam, C. Raoul Hakim
→ 1 CommentTags:
“Pergerakan untuk Perubahan”
November 9th, 2008 · Politics
Akhirnya Amerika Serikat memilih, Mereka memilih untuk mencetak lembaran sejarah baru bagi negerinya. Barrack Hussein Obama terpilih sebagai Presiden kulit hitam pertama di negeri Paman Sam itu dengan mengalahkan rivalnya dari Partai Republik sang pahlawan perang Vietnam; John McCain. Kemenangan yang cukup signifikan dimana Obama berhasil mengumpulkan 349 electoral votes dan 161 elctoral votes bagi McCain & selisih hampir 8 juta ‘popular votes’ (sampai saya menulis note ini). Sebuah kemenangan bagi Amerika Serikat untuk membuktikan mukadimah konstitusinya yang berbunyi “we hold this truth to be self-evident that all men are created equal…”, sebuah kemenangan bagi mimpi seorang Martin Luther King dengan kata2nya yang dimulai dengan “I have a dream…”, sebuah kemenangan bagi Malcolm X yang berjuang bagi warga kulit hitam Muslim maupun non-muslim yg berjuang dengan militan (’by any means necessary…”), sebuah kemenangan bagi Muhammad Ali yang mengganti namanya dari Cassius Clay karena “I don’t want to be called by my slave name!” dan semua pejuang civil rights di Amerika Serikat; the Kennedys, jesse Jackson, Al Sharpton dan masih banyak lagi.
Kemenangan ini bukan titik akhir dari perjuangan kaum Civil Rights activists di AS, dan sesungguhnya juga bukan kemenangan pertama. Kemenangan kecil demi kemenangan kecil telah terjadi di setiap masa. Dan dengan perlahan tapi pasti dengan perjuangan tokoh yang tersebut di atas. Memang tidak secepat hari berganti, tetapi walaupun seperti sebuah Evolusi (bertahap dan perlahan) harus diperjuangkan seakan akan sebuah Revolusi. Terbukti diperlukan tokoh-tokoh Revolusioner yang menghadirkan diri dan ‘ideals’-nya dengan gegap gempita terkadang penuh kemarahan dan tak jarang terlihat arogan. Ketika seorang Muhammad Ali, menentang perang Vietnam dan menolak diberangkatkan kesana sbg bagian dari wajib militer di kala itu, dia dengan keras menyatakan tidak, dengan lantang mengatakan bahwa vietkong2 di vietnam tidak pernah berbuat salah padanya, justru negara nya (AS) yang selama ini masih menindasnya (dan sesama kulit hitam yang lain). Sangat arogan dan dianggap tidak patriotik dia di kala itu, tapi sesungguhnya bukan pesan itu yg dia maksud, namun adalah pesan untuk mengingatkan AS untuk memberikan persamaan hak dahulu di AS sebelum berharap warga kulit hitam mau mengorbankan nyawanya utk negara. Ketika seorang Martin Luther King yang terlihat selalu anti kekerasan, namun dia meng-organize “the million man march” atau pawai sejuta orang untuk menentang kebijakan segregation (segregasi seperti apartheid) dimana ini sesungguhnya bentuk kemarahan dan show off force walaupun di’kosmetik’i ‘tanpa kekerasan’. Atau ketika seorang Malcolm X berpidato di sebuah universitas dan menyatakan perjuangan persamaan hak harus dilakukan dengan “By Any Means Necessary” atau bila diartikan secara singkat ‘menghalalkan segala cara’ seperti revolusi berdarah.
Semua Perjuangan para kaum Revolusioner itulah yang akhirnya berangsur menghapus kebijakan segregasi AS sehingga tidak lagi seorang kulit hitam duduk di tempat duduk khusus di belakang Bis Kota, atau buang air di WC umum yang terpisah dan lebih jelek dari WC umum kaum kulit putih, dan akhirnya seorang ’skinny kid with a funny name’ (mengutip pidato Obama di Konvensi Demokrat 2004 ketika menjelaskan tentang dirinya) dapat menjadi Presiden Amerika Serikat. Semua ini dapat terjadi karena adanya ‘Pergerakan’ yang dimotori oleh beberapa orang di negeri itu. Seperti juga terjadi di Indonesia, ketika bangsa kita memperjuangkan kemerdekaannya dari penjajah, muncul tokoh2 Revolusioner seperti Bung Tomo, Mohammad Yamin, Soekarno, Bung Hatta, Tan Malaka dan masih banyak lagi. Mereka tampil dengan amarah, tangan mengacung-acung, tangan dikepal, berteriak lantang atau menulis dengan tajam melawan penjajahan. Akhirnya penjajahan pun terhapuskan di bumi Indonesia kala itu. Terjadi lagi di era orde baru ketika menuju reformasi, munculnya perlawanan perlawanan tokoh2 muda maupun yg lain di Indonesia mulai dengan kejadian Malari 73, ITB 78, PDI Mega, PPP yg Mega-Bintang pada pemilu 80-an, Amien Rais bicara suksesi di awal 90-an dan berpuncak dengan jatuhnya Rezim Soeharto. Semua yang tampil, tampil dengan percaya diri, berbicara dengan lantang, menunjukkan perlawanan.
Sesungguhnya dengan segala permasalahan Bangsa yang ada sekarang kita membutuhkan kaum kaum Revolusioner baru, yang mau berjuang untuk ‘persamaan hak’ mungkin bukan dalam konteks rasial namun dalam konteks ‘kelas’. Bangsa ini membutuhkan pejuang pejuang revolusioner yang berjuang demi masyarakat yang tidak dapat menyekolahkan anak2nya setinggi-tingginya dengan murah, berjuang demi tersedianya akses pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang membutuhkannya, berjuang demi tersedianya perumahan murah bagi masyarakat berekonomi lemah, berjuang agar anak-anak tidak lagi dipekerjakan di pabrik pabrik, berjuang agar pembagian hasil eksplorasi sumber daya alam kita masuk lebih besar ke kas negara kita daripada masuk ke kas korporasi asing maupun dalam negeri, berjuang agar kapitalisme tidak menjadi sistim ekonomi di negeri ini karena sesungguhnya sistim ekonomi sosial lah yang lebih dekat dengan ajaran agama di negeri yang ber-Tuhan ini. Ah, terlalu banyak yang harus diperjuangkan, tetapi kita tidak kekurangan orang… ada 220 juta orang di negeri ini, mudah-mudahan 4 juta yang sudah cukup berpendidikan, cukup kehidupannya mau bergerak dan memperjuangkan ini, sehingga suatu waktu bukan lagi saham Bumi Resources yang anjlok yang dipikirkan Pemerintah, tetapi bagaimana korban lumpur Sidoarjo dapat kembali hidup selayak-layaknya dan anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan menjadi agen-agen Pergerakan untuk Perubahan di masa datang tentunya dengan masalah Bangsa yang berbeda dengan masalah yang sekarang, sehingga suatu saat nanti calon Presiden yang dipilih adalah benar-benar putra terbaik Nusantara yang terpilih bukan karena dana kampanyenya terbesar, bukan karena nama belakangnya, bukan karena dukungan korporasi-korporasi penghisap darah rakyat di negerinya tercinta.
Wassalam
→ No CommentsTags:
Perubahan Dimulai Dari Sini November 4, 2008
November 9th, 2008 · Politics
Tidak sampai 24 jam lagi Amerika Serikat akan menentukan pilihannya untuk Presiden mereka periode 2009-2013. Hampir bisa dipastikan Barrack Hussein Obama akan memenangkan pertarungan paling bersejarah dan paling phenomenal di negeri itu. Tanpa meraih kemenangan pun Obama sudah mencetak lembaran baru bagi dirinya dan bersama pendukungnya dia pun telah mencetak lembaran baru bagi bangsanya sebagai African-American pertama yang memenangkan tiket Partai besar, untuk menjadi calon Presiden di negara itu. Karena sangat fenomenal nya Pemilu 2008 ini di Amerika Serikat, dengan bantuan media dan internet, fenomena ini pun ikut dirasakan ke seluruh penjuru dunia termasuk negara kita yang kita cintai ini.
Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan turut bersemangatnya kita-kita di Indonesia mengikuti perkembangan Pemilu di Amerika Serikat, apalagi kalau sampai muncul Politisi politisi sekelas Obama, McCain, Palin atau Joe Biden (my personal favorite) setelah ini. Yang menjadi masalah adalah menurut opini pribadi saya bahwa semangat kita mengikuti Pemilu AS adalah semata mata karena kekeringan Politik di negeri ini. Minimnya Politisi seperti Barack yang sangat articulate ketika menyampaikan pesannya, dan dapat menularkan semangat bagi pendengarnya dan semangat itu adalah semangat untuk berbuat bagi bangsa nya. Semangat memilih yg terbaik untuk negerinya, semangat karena adanya harapan bahwa masa depan yg lebih cerah ada di depan mata, masa depan yg berarti asuransi kesehatan yang memadai sehingga tidak ada kebingungan harus memilih membayar sewa rumah atau membeli obat-obatan, semangat karena walaupun hanya berpenghasilan pas-pasan tidak khawatir akan putra-putrinya nanti dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat universitas, semangat karena pemerintahnya dapat menciptakan suasana kondusif untuk investasi dan usaha sehingga tidak pernah ada kekhawatiran akan di PHK karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, semangat karena dengan majunya Obama sebagai capres kulit hitam pertama (apalagi kalau menang) telah membuktikan bahwa prinsip kemajemukan negeri itu bukan sekedar slogan.
Semangat itu semua bertolak belakang dengan keadaan di Indonesia sekarang dan jauh dari harapan apabila bergantung pada Politisi-politisi yang ada sekarang dan PARPOL peserta Pemilu 2009 beserta caleg2nya (paling tidak mayoritas dari caleg2 yang ada). Kenyataannya pembantu rumah tangga kami suatu hari menderita sakit panas, kamipun memberikannya uang untuk pergi ke salah satu Rumah Sakit milik Pemerintah, dan dia tidak dilayani mungkin karena appearance nya tidak seperti masyarakat kelas menengah atas (padahal kita titipkan uang Rp. 500 ribu, sangat cukup untuk pemeriksaan) Ia pun kembali ke rumah dan akhirnya Istri saya mengantar dia ke tempat yang sama dan langsung dilayani, kenyataannya dengan wajib belajar hingga 12 tahun (yang artinya bebas biaya) adalah omong kosong karena masih banyak pungutan2 yang tidak dapat di afford oleh jutaan orang tua yang ingin anaknya sekolah (apalagi menyekolahkan anak sampai sarjana), kenyataannya harga minyak dunia telah turun dan pemerintah tetap tidak menurunkan harga BBM sementara dollar terus menanjak (melawan rupiah) sehingga diprediksikan akan banyak usaha yang bangkrut, dus PHK akan banyak terjadi dan pengangguran meningkat, kenyataannya slogan Bhinneka Tunggal Ika pun hanya slogan tua yang telah pikun, yang Fundamentalis Islam melakukan tindak kekerasan pada yang berbeda dengan mereka, yang Bali melarang migran Jawa mendirikan mesjid, yang Aceh memeras warga non-Aceh yg sukses usahanya/pertaniannya di serambi Mekkah itu.
Dengan semua kenyataan itu seharusnya masa masa sekarang inilah kita dapat berharap bahwa perubahan akan datang sebentar lagi, toh Pemilu hanya tinggal beberapa bulan lagi, tetapi kembali Kenyataan memukul kita! Bahwa Parpol, politisi maupun calon2 wakil rakyat maupun capres yg bermunculan tidak memberikan harapan itu, mereka tidak bicara mengenai caranya masyarakat dengan kepala keluarga gaji UMR (upah Minimal Regional) dapat menyekolahkan anaknya hingga tingkat SMA (tidak universitas dulu), dan ketika istrinya kena Demam Berdarah dapat berobat gratis (segratis gratisnya) sehingga tidak dibiarkan meninggal di ruang tunggu Emergency karena tidak punya biaya. Mereka justru membiarkan pemerintah yang korup dan gagal ini terus melenggang tanpa perlu diminta pertanggungjawaban yang berarti, mereka seakan malah mem-barter diam mereka dengan meloloskan UU anti pornografi yang pasal-pasalnya cenderung tolol dan melecehkan bangsa ini sebagai negara hukum (’masyarakat boleh menindak warga lain yang dianggap porno’???), sebagian dari mereka menggunakan dana-dana bencana (yang dianggarkan di APBN) untuk kepentingan pribadi, Parpol dan caleg jadi Sinterklas bagi-bagi uang, sembako dimana bukan itu tugas parpol dan anggota legislatif (tugas sebenarnya membuat UU yang menyejahterakan rakyat), mereka jadi bagian pembodohan di negeri ini mungkin karena memang bodoh (gaulnya: bodo beneran!) karena kemampuan otaknya & kepekaan sosialnya tidak sampai utk bisa bikin UU mengenai bgmn rakyat dapat pendidikan gratis, playanan kesehatan gratis, akses utk dpt pekerjaan yg layak, instead mereka bikin UU yg tidak perlu menggunakan otak (kanan maupun kiri!) sorry to say, but true!
Sepertinya masih jauh dari mimpi kita bisa sampai kesana, tetapi bukan karakter orang Indonesia untuk mudah menyerah! Bukan karakter bangsa yang dibesarkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir dan Jenderal Soedirman untuk gampang mengibarkan bendera putih! Masih ada harapan saudara saudaraku sekalian, dari sekian banyak Parpol pasti ada yang paling rendah tingkat korupsinya dan tidak terlalu bodoh, dari sekian banyak caleg tentunya ada yang benar benar mumpuni secara kecerdasan, moral dan kepekaan sosialnya. Ini Jamannya untuk ikut menentukan nasib kita semua ke depan, masih ada tokoh-tokoh bersih, cerdas, berani dan jujur di negeri ini, masih ada Amien Rais, Syafi’i Maarif, Faisal Basri, Frans Magnis Soeseno, dan masih ada generasi setelah mereka yang sedang bermunculan. Pelajari Parpol dan caleg caleg yang maju, capres capres yang siap maju, percayalah kekuatan yang jahat dan hanya ingin memporak porandakan bangsa ini walau jumlahnya kecil, mereka lebih terorganisir dari kita ‘the silent majority’… Imam Ali R.A. pernah berujar: “kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak bersatu”.
Sungguh, perubahan tidak seperti membalik telapak tangan tapi semua nya harus ada langkah awal (everything must start somewhere) dan perubahan di negeri ini dimulai dari Pemilu 2009.
Mungkin masih jauh untuk mendapatkan yang terbaik bagi bangsa kita seperti Amerika Serikat akan mendapatkan yang terbaik bagi bangsanya besok, tetapi jangan biarkan yang terburuk terjadi, mari kita bersama mencari harapan (HOPE) itu dan perubahan yang dapat kita yakini (Change We Can Believe In)
Wassalam,
C. Raoul Hakim
→ 1 CommentTags:



